Artikel

Penderita TBC Harus Punya Pengawas Minum Obat (PMO)

SEMARANG- Tuberculosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan kuman yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang seluruh bagian tubuh, walaupun lebih sering ditemukan menyerang saluran pernapasan manusia, terutama paru.

Keadaan lembap seperti di Indonesia, meningkatkan daya tahan kuman untuk berkembang biak lebih cepat. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 5,7% dari total jumlah pasien TB dunia, dengan setiap tahun ada 450.000 kasus baru dan 65.000 kematian.

Ketika seseorang didiagnosis menderita infeksi tuberkulosis, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memusnahkan kuman ini dari dalam tubuh. Seseorang dengan infeksi TB Paru, membutuhkan minimal 6 bulan pengobatan, di mana 2 bulan pertama bertujuan mematikan kuman TB, dan 4 bulan setelahnya untuk mengendalikan bibit-bibit kuman yang bersembunyi agar tidak aktif. Belum lagi, bila kuman TB terlanjur menyebar ke organ lain, waktu pengobatan dapat lebih panjang yaitu 9-12 bulan.

Waktu yang lama dan jenis obat yang banyak membuat banyak pasien TB tidak patuh menjalani pengobatan. Hasilnya, kuman menjadi kebal dan pengobatan harus diulang. Oleh sebab itu, Kementrian Kesehatan RI membuat program pendampingan khusus yaitu Pengawas Minum Obat (PMO).

Apa itu Pengawas Minum Obat?

Pengobatan TB akan menyembuhkan sebagian besar pasien tanpa memicu munculnya kuman resistan (kebal) obat. Untuk tercapainya hal tersebut, sangat penting dipastikan bahwa pasien menelan seluruh obat yang diberikan sesuai anjuran dengan cara pengawasan langsung oleh seorang PMO (Pengawas Minum Obat, atau sering juga disebut Pengawas Menelan Obat) agar mencegah terjadinya resistensi (kebal) obat.

Pilihan tempat pemberian pengobatan sebaiknya disepakati bersama pasien agar dapat memberikan kenyamanan. Pasien bisa memilih datang ke fasilitas kesehatan (puskesmas, RSUD, RS swasta) terdekat dengan kediaman pasien atau PMO datang berkunjung ke rumah pasien. Apabila tidak ada faktor penyulit, pengobatan dapat diberikan secara rawat jalan.

 Apa saja syarat menjadi PMO?

  • Seorang PMO harus seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien,
  • PMO harus disegani dan dihormati oleh pasien, sehingga pasien dapat patuh menjalankan instruksi yang diberikan.
  • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
  • Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
  • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien

Siapa saja yang bisa jadi PMO?

Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru imunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa PMO yang berasal dari anggota keluarga meningkatkan kepatuhan pasien dalam meminum obat. Namun, anggota keluarga itu harus terlebih dahulu diberi edukasi oleh petugas kesehatan mengenai seluk beluk penyakit TB.

Apa saja tugas seorang PMO?

Tugas seorang PMO bukanlah untuk menggantikan pasien mengambil obat dari tempat berobat. Tugas PMO sangat penting untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien, antara lain adalah:

  • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. Tanpa PMO, pasien rentan drop out, sehingga kuman terlanjur kebal obat dan waktu pengobatan bisa diulang dan lebih panjang.
  • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
  • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.
  • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang PMO pun harus aktif memberikan informasi penting yang perlu dipahami oleh pasien TB dan anggota keluarga lain. Hal-hal itu antara lain:

  • Bahwa TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan.
  • Bagaimana cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.
  • Bahwa TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur, bila tidak patuh pengobatan menjadi lebih panjang karena kuman terlanjur lebih liar dan kebal obat.
  • Bagaimana cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan).
  • Apa pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur.
  • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Mengingat peranannya yang besar, sangat penting bagi seorang pasien TB memiliki pengawas minum obat. Dengan kerjasama PMO-pasien yang solid, angka kecacatan dan kematian akibat TB dapat ditekan.

Sumber : hallosehat.com disunting oleh dr. Maizan Khairun Nissa 

Info Semarang