Semarang – UPTD Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD) lintas sektoral pada Selasa, 10 Maret 2026, bertempat di Aula Puskesmas Kedungmundu. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim TPCB Dinas Kesehatan Kota Semarang, perwakilan Kelurahan Sendangmulyo, Ketua RW, TP PKK, FKK, serta tenaga kesehatan Puskesmas Kedungmundu.
FGD ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menangani berbagai permasalahan kesehatan di wilayah Kelurahan Sendangmulyo, khususnya penyakit berbasis lingkungan serta kesehatan ibu dan anak.
Fokus Pembahasan: Kesehatan Ibu, Penyakit Lingkungan, dan Peran Wilayah
Dalam paparannya, Kepala Puskesmas Kedungmundu menyampaikan bahwa masih terdapat kasus kematian ibu hamil dan nifas di wilayah kerja, sehingga diperlukan penguatan pendampingan terhadap ibu hamil dan ibu nifas secara intensif. Salah satu strategi yang dilakukan adalah mengintegrasikan pendampingan tersebut dengan kegiatan Pemeriksaan Jentik Nyamuk (PJN).
Selain itu, ditekankan pentingnya tertib administrasi penduduk, khususnya bagi warga pendatang (boro, kos, kontrakan), agar dapat terdeteksi sejak dini jika terjadi masalah kesehatan. Kelurahan diharapkan dapat menerbitkan surat edaran untuk memperkuat pelaporan oleh RT dan RW.
Kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menjadi fokus, baik di tingkat kelurahan maupun melalui layanan luar gedung hingga tingkat RT/RW. Program ini bertujuan meningkatkan deteksi dini penyakit di masyarakat.
Dalam bidang gizi, dukungan terhadap program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui SPPG telah berjalan, serta dilakukan sweeping balita pada Februari–Maret sebagai persiapan pelaksanaan SSGI 2026.
Pengendalian Penyakit Berbasis Lingkungan
FGD juga menyoroti potensi penyakit berbasis lingkungan, seperti:
Untuk itu, disepakati penguatan kegiatan PJN dua kali seminggu, serta pelaksanaan Pengendalian Tikus dan Pencegahan (PTP) melalui pemasangan perangkap tikus di masing-masing wilayah.
Pelaporan kegiatan dilakukan melalui aplikasi Tunggaldara secara rutin setiap minggu. Selain itu, inovasi kesehatan “GEMBIRA RIA” kembali diingatkan untuk disosialisasikan kepada masyarakat sebagai upaya promotif preventif.
Diskusi: Tantangan Lapangan dan Solusi Kolaboratif
Dalam sesi diskusi, sejumlah tantangan di lapangan turut disampaikan. Beberapa RW mengungkapkan kendala dalam pelaksanaan PJN, seperti waktu pelaksanaan yang berbenturan dengan jam kerja serta kebutuhan konsumsi kegiatan. Ada pula usulan pembagian tugas kader agar lebih terstruktur dan tidak memberatkan.
Selain itu, perlunya penguatan komunikasi antara kader, RT, dan RW juga menjadi perhatian, karena belum semua informasi program kesehatan tersampaikan dengan baik di tingkat wilayah.
Forum juga menekankan pentingnya peran aktif RT dan RW dalam:
Rencana Tindak Lanjut
Sebagai hasil FGD, disepakati beberapa langkah tindak lanjut, antara lain:
Kesimpulan
FGD Lintas Sektoral Maret 2026 di Kelurahan Sendangmulyo menegaskan bahwa keberhasilan penanganan masalah kesehatan sangat bergantung pada kolaborasi aktif antara tenaga kesehatan, pemerintah wilayah, dan masyarakat.
Permasalahan seperti kematian ibu, penyakit berbasis lingkungan, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam program kesehatan memerlukan pendekatan terpadu dan berkelanjutan. Dengan penguatan koordinasi, pelaksanaan program yang konsisten, serta keterlibatan aktif RT, RW, dan kader, diharapkan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan merata di seluruh wilayah.